06/05/13

Gerakan Mahasiswa: Berangkat dari Mana dan Menuju ke Mana?

Pendahuluan AWAL kepengurusan organisasi mahasiswa saat ini, merupakan waktu yang tepat untuk mewacanakan kembali arah gerakan mahasiswa. Hal ini yang kadang terlewatkan di antara sebagian aktivis kampus. Padahal sebenarnya, ini selalu menjadi hal yang menarik dan krusial, khususnya sebagai jawaban dari pertanyaan mau dibawa kemanakah arah gerakan mahasiswa saat ini. Artikel ini memiliki tujuan untuk melihat kembali perjalanan gerakan mahasiswa dan sebagai tawaran diagnosis bagi gerakan ke depannya. Usaha ini dirasa sangat penting saat melihat gerakan mahasiswa saat ini semakin kehilangan arah dan basis massanya. Gerakan mahasiswa tidak semata sebagai kumpulan mitos dan slogan yang selalu didengung-dengungkan para aktivis. Akumulasi mitos ini justru melenakan dan menina-bobokan mahasiswa dalam zona nyamannya. Gerakan mahasiswa menuntut adanya posisi yang jelas dan tegas, misalnya, dimana mahasiswa seharusnya berada di tengah masyarakat. Menjawab soal tersebut, sebuah analisa tentang posisi mahasiswa secara teoritis sangat dibutuhkan. Pun juga sebagai prakteknya dalam ’mengabdikan´dirinya pada masyarakat. Dalam artian sederhana, aktivisme gerakan mahasiswa saat ini membutuhkan topangan teori yang kuat sebagai landasan geraknya. Bukan untuk menjadikan mahasiswa berteori secara saklek dan kaku, tetapi sebagai landasan gerak yang jelas bagi langkah ke depan. Pentingnya teori dalam gerakan ini pernah dinyatakan Lenin, ‘Tanpa teori yang revolusioner tak akan ada gerakan revolusioner.’ Belajar dari sejarah Gerakan mahasiswa dalam prakteknya bukanlah hal yang ahistoris. Gerakan ini telah melewati spektrum waktu yang lama dan cakupan geografis yang luas. Artinya, gerakan mahasiswa bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya dengan locus spesifik Indonesia. Justru, gerakan mahasiswa Indonesia merupakan bagian dari kesejarahan gerakan mahasiswa secara luas di dunia. Dalam sejarah, secara umum gerakan mahasiswa Indonesia melegenda dalam masa-masa tertentu. Secara awam pun, mahasiswa dapat menyebutkan dengan hapal momentum itu. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1966, 1974, 1978, dan 1998 diakui sebagai tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Namun, sebenarnya, yang perlu dilakukan mahasiswa Indonesia saat ini bukanlah mengagung-agungkan gerakan mahasiswa pada masa itu dengan menyebut-nyebutnya secara heroik. Mengapa demikian, karena perilaku itu justru menjatuhkan gerakan mahasiswa pada romantisme masa lalu dan terjebak dalam mitos-mitos konyol yang banyak menyebutkan bahwa mahasiswa sebagai satu-satunya motor gerakan perubahan sosial. Bukan bermaksud meremehkan peran mahasiswa pada masa itu, tetapi pengagungan membabi-buta akan gerakan mahasiswa ketika itu, dalam pengalamannya, justru hanya akan berakhir pada rasa bangga saja dan semakin mengokohkan mitos-mitos yang ada, dan yang paling menusuk adalah tak mengubah keadaan sedikit pun. Hal yang perlu dilakukan mahasiswa sekarang adalah pendobrakan atas ‘mitos-mitos’ di atas dan memperbaikinya. Belajar dari sejarah merupakan upaya merekonstruksi kembali apa yang terjadi di masa lalu untuk menjadi pembelajaran dalam pembacaan atas realitas sekarang. Secara real memang kondisi sosialnya jelas berbeda, tetapi pola-pola pembacaan atas kondisi yang terjadi patut untuk dilihat. Berangkat dari tesis bahwa gerakan mahasiswa bersifat historis, maka belajar dari masa lalu adalah upaya mempelajari pola-pola gerakan tersebut secara kritis. Hal ini perlu dilakukan agar wawasan tentang gerakan mahasiswa tidak sempit. Oleh karena itu, kita perlu belajar dari fakta sejarah yang telah terukir di lintasan dunia dalam hal gerakan mahasiswa sebagai bahan analisa. Mahasiswa Amerika Latin adalah pemberi contoh yang baik bagaimana mahasiswa berperan dalam kehidupan bernegara. Aksi-aksi mereka diawali dari adanya Manifesto Cordoba di Argentina pada tahun 1918. Manifesto Cordoba menjadi deklarasi hak mahasiswa yang pertama di dunia, dan sejak itu mahasiswa di sana memainkan peran yang konstan dan militan dalam kehidupan politik. Manifesto Cordoba adalah deklarasi mahasiswa yang menuntut adanya otonomi akademik universitas dan keterlibatan mahasiswa dalam mengelola administrasi universitas (cogobierno). Hal ini berangkat dari adanya administrasi lama yang tidak pernah memberikan ruang untuk pembaharuan kurikulum dan adanya ajaran yang membuat setiap orang ketakutan bila melakukan perubahan. Hal yang dinyatakan dalam manifesto tersebut salah satunya, ‘Kami ingin menghapus dari organisasi universitas konsep tentang otoritas yang kuno dan barbar, yang menjadikan universitas benteng pertahanan tirani yang absurd.’[1] Program reformasi total yang diinginkan mahasiswa berusaha mendobrak pandangan konservatif akan universitas, dengan memberikan independensi penuh pada universitas dari kooptasi kepentingan politik pemerintah, juga memberikan kesempatan mahasiswa untuk berbagi kekuasaan dalam kampus. Hal ini merupakan refleksi atas kondisi sosial politis di Amerika Latin yang dikuasai pemerintahan otoriter, yang jangkauan kekuasaannys juga masuk ke dalam ranah akademik universitas. Kondisi yang demikian kemudian menyebabkan gerakan mahasiswa secara bertahap memperluas tuntutannya pada hal yang lebih bersifat politis, yaitu perlawanan pada rezim yang otoriter. Hal ini karena adanya kesadaran bahwa kebijakan universitas tersebut hanya sebatas symptom, perlu penghajaran pada akar penyakitnya. Perlawanan atas rezim tersebut dilakukan dengan membentuk berbagai aliansi dan front bersama buruh dan petani sehingga dalam kenyataannya mahasiswa tidak bergerak sendiri. Dalam jangka waktu 20 tahun, perlawanan mahasiswa dari Argentina ini menyebar ke seluruh Amerika Latin. Di Peru tahun 1919, Chili 1920, Kolumbia 1924, Paraguay 1927, Brazil dan Bolivia 1928, Meksiko 1929, Kosta Rika 1930, dan Kuba pada tahun 1933 dan 1952. Setiap negara memiliki karakternya masing-masing, sehingga tingkat keberhasilan dan durasi pencapaiannya pun berbeda-beda. Ada yang menang dengan menggulingkan rezim otoriter, ada juga yang hanya setengah-setengah dengan mendapatkan otonomi sementara. Namun setidaknya, mahasiswa Amerika Latin mengajarkan kepada kita jika tuntutan akademis dan aktivitas politik merupakan dua hal yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Di Italia perlawanan mahasiswa berawal dari Turin. Mahasiswa berhasil mengontrol aktivitas fisik dan intelektual kampus mereka melalui kegiatan-kegiatannya sendiri. Selama sebulan kampus berhasil di duduki (27 November 1967-27 Desember 1967), sebelum aparat menyerbu kampus tersebut. Sejak itu perlawanan meluas ke beberapa kota sepanjang jazirah Italia. Alasan utama mahasiswa melakukan perlawanan adalah karena kondisi akademis yang otoriter. Tradisi pedagogi dan kurikulum menjadikan profesor-profesor di sana dapat mengajar dengan seenaknya sendiri, misalnya, para professor di sana memberi kuliah dengan diktat yang ditulisnya sendiri dan ujian hanya diambil dari diktat tersebut. Tak ada ruang diskusi yang bebas dan kesempatan belajar dari sumber lainnya. Selain itu, kurikulum yang disusun sangatlah kuno, seperti silabus kuliah ilmu politik yang hanya sampai pada pemikiran JJ. Rousseau. Keterbatasan dan kekakuan akademis ini membuat mahasiswa ‘terkurung’ dalam kegiatan akademisnya sendiri. Oleh karena itu, agenda utama perlawanan mereka adalah kritikan atas kondisi akademis tersebut. Untuk mencapai itu, gerakan mahasiswa berusaha memperluas jangkauannya dengan keluar dari Turin, tentu dengan mengubah tuntutan secara praktis menjadi ‘Lawan Otoriterianisme.’ Tujuannya jelas agar diikuti seluruh mahasiswa di Italia. Efeknya dalam dua bulan (Januari-Februari 1968), gerakan mahasiswa ini meluas hingga seluruh kota di Italia. Tidak hanya terdiri dari elemen mahasiswa saja, tetapi juga pelajar dan para buruh FIAT. Hal ini kemudian menyita perhatian publik dan membuat pemerintah tak tinggal diam. Represivitas terjadi dalam menghentikan perlawanan ini, sehingga setidaknya 2000 mahasiswa ditangkap dengan berbagai tuduhan. Kenyataan gerakan di Italia ini kemudian berhasil mengubah struktur akademis dan memaksa para professor melihat kembali kurikulum di dalam kampus. Juga mengubah kebijakan pendidikan nasional ke arah yang lebih egaliter dan terbuka.[2] Gerakan mahasiswa di Spanyol dilatarbelakangi dua hal, yaitu krisis dan perlawanan terbuka kepada rezim Franco dan kondisi internal Universitas. Secara umum, mahasiswa merupakan entitas yang kecil di Spanyol pada tahun 1965.[3] Kondisi ini disebabkan oleh mahalnya biaya kampus dan sedikitnya subsidi dari pemerintah, sehingga mahasiswa dari kalangan buruh dan petani sangatlah kecil padahal mayoritas masyarakat berasal dari dua kelas tersebut. Hal ini kemudian diperparah dengan sulitnya mencari pekerjaan bagi para sarjana setelah lulus dari kampus. Selain kondisi di atas, kooptasi rezim Franco dalam kampus sangatlah besar, termasuk dalam serikat mahasiswa. Hanya satu serikat mahasiswa yang diakui di Spanyol, yaitu Sindicato Espanol Universitario (SEU). Pimpinan serikat ini dipilih oleh pemerintah, meski akhirnya diberikan keleluasaan pada mahasiswa untuk memilih sendiri. Namun, mahasiswa tidaklah puas dengan hal tersebut dan kemudian mereka membuat serikat baru yang dinamakan Federacion Universataria Democratica de Espana (FUDE) dan ADEC. Keduanya kemudian melebur menjadi Confederacion Democratica de Espana (CUDE). Setelah terbentuknya serikat baru ini, mahasiswa mulai berani mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal serikat mahasiswa di kampus. Kritik mereka pada sistem Universitas kemudian merembet pada isu politik nasional. Reli-reli protes selalu dihadapkan pada bentrokan dengan aparat kepolisian. Guna menghadapi itu, mahasiswa kemudian membuka jaringan dengan buruh karena memiliki kesamaan isu, yaitu kebebasan berserikat. Rezim Franco yang fasis dan totaliter dijadikan musuh bersama karena memang dianggap sebagai akar masalah. Aliansi ini disahkan dengan mogok bersama pada tanggal 1-3 Mei 1968. Hal ini kemudian berakibat pada bentrokan dan penagkapan besar-besaran pada aktivis mahasiswa dan buruh. Namun perjuangan bersama antara mahasiswa dan buruh terus berjalan hingga rezim Franco runtuh. Gerakan mahasiswa juga terjadi di Perancis, yang paling terkenal pada tahun 1968. Banyak versi yang menceritakan hal ini, namun bila mengikuti alur cerita dari Ernest Mandell, faktor utama dari protes mahasiswa di Perancis adalah adanya alienasi dalam kehidupan mahasiswa yang disebabkan oleh kampus. Mahasiswa dihadapkan pada sistem, struktur, dan kurikulum yang membuat mahasiswa semakin terk-eksklusi dari kehidupannya sendiri. Kampus membuat sistem ‘proletariat baru’ sehingga mereka tak diperkenankan dalam menentukan kehidupannya di kampus dan berpartisipasi dalam menentukan kurikulum. Semua sistem, struktur, dan kurikulum ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri. Mahasiswa tidak belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, tetapi diatur secara sistemik dalam kerangka besar untuk memenuhi kebutuhan industri. Hal ini kemudian menjadikan mahasiswa mulai protes terhadap kampusnya terkait permasalahan kampus. Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka menyadari jika akar permasalahan bukanlah di kampus, tetapi sistem yang mengatur masyarakat secara luas, kampus dianggap hanya salah satu bagian dari masyarakat. Pola perlawanan pun bergeser. Mahasiswa kemudian berafiliasi dengan buruh dan elemen masyarakat lain untuk menentang sistem yang menyebabkan ‘alienasi’ tersebut, yaitu kapitalisme. Perlawanan meluas tak hanya di kampus saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Perancis. Pertarungan ini naik-turun selama periode 1968 dan mempengaruhi kenyataan politik di Perancis masa itu.[4] Berangkat dari Realisme, Menuju Emansipatoris Bila kita perhatikan bersama terdapat beberapa pembelajaran dari gerakan mahasiswa di atas. Pembelajaran ini berkaitan dengan pembacaan realitas atas kondisi. Dari beberapa kasus, setiap gerakan mahasiswa umumnya berangkat dari permasalahan yang ada di sekitar mereka, hal itu kemudian diabstraksikan ke arah yang lebih mendasar untuk mencari akar masalahnya. Dengan kata lain, gerakan mahasiswa selalu bermula dari realitas di sekitarnya, dari sesuatu yang real, dan kemudian diproblematisasi. Bila mengikuti logika ini, maka gerakan mahasiswa di atas melihat permasalahan dengan kacamata realisme kritis. Berangkat dari realisme merupakan kunci dalam melihat permasalahan. Lantas kemudian timbul pertanyaan, hal seperti apa yang disebut sebagai realitas? Atau apakah yang disebut dengan realisme? Sebelum itu, mari kita bedah apa yang disebut dengan realisme. Realisme adalah sebuah pemahaman yang melihat kenyataan sebagai hal yang terpisah dari diri pengamat. Dalam hal ini, kenyataan menjadi sesuatu yang ada secara in heren di luar diri pelaku, walau pelaku itu ada atau tidak. Hal ini berbanding terbalik dengan idealisme yang melihat kenyataan sebagai sesuatu yang ada karena idea di kepala mengatakan hal tersebut ada. Artinya, kenyataan ditetukan oleh pikiran atau anggapan seseorang. Dari perspektif realis, gerakan mahasiswa memandang jika permasalahan sosial sebagai sesuatu yang ada secara real di luar diri mereka. Ada atau tidak adanya gerakan mahasiswa, realitas permasalahan itu ada di masyarakat. Melihat hal tersebut, gerakan mahasiswa kemudian muncul sebagai respon terhadap hal tersebut. Namun, perlu diingat bahwa kemunculan gerakan mahasiswa tidak selalu disyaratkan secara deterministik oleh permasalahan secara real itu. Realisme kritis sendiri memiliki tiga tingkatan aspek ontologis, yaitu (a) realitas empirik (realitas yang dapat dijumpai dengan panca indera), (b) realitas aktual (realitas yang dijumpai dalam ruang dan waktu), dan (c) realitas ‘real’ (realitas yang bersifat transfaktual dan lebih bertahan daripada persepsi kita karena ia berisi struktur yang memiiliki kapasitas kuasa dan menjadi dasar terdalam dari peristiwa-peristiwa yang diobservasi muncul).[5] Hubungan dari ketiga realitas tersebut terjadi secara sebab-akibat. Artinya realitas (a) disebabkan oleh realitas (b) dan disebabkan oleh realitas (c). Sehingga, realitas (a) merupakan manifestasi secara empirik dari realitas (c). Oleh karena itu, realisme kritis selalu mensyaratkan untuk mendapatkan realitas yang ‘real’ atau sejati dalam fenomena sosial, maka dibutuhkan sebuah cara untuk melampaui realitas empirik dan realitas aktual tadi dan berusaha tak terjebak dalam keduanya. Hal ini seperti apa yang dipaparkan Roy Bhaskar, bahwa pertama, dunia ada secara independen dari anggapan-anggapan kita terhadapnya sekaligus terdiferensiasi dan terstratifikasi; kedua, fenomena sosial muncul dari dalam relasi struktur menjadi aktual kemudian tampil secara empiric; ketiga, sehingga untuk mempelajari fenomena sosial, seseorang harus memulai dari bidang empirik, tetapi tidak boleh berhenti di situ saja melainkan harus terus bergerak ke bidang aktual hingga mendapatkan pemahaman di tingkat relasi-relasi terdalam dari struktur, yaitu kuasa.[6] Melihat pengalaman dari gerakan mahasiswa di atas, gerakan mahasiswa dapat dikatakan berangkat dari realitas empirik karena permasalahan yang di hadapi dapat ditangkap oleh pancaindera dan langsung berkaitan dengan kehidupan mereka. Di Amerika Latin hal itu dimulai dari permasalahan otonomi akademik, di Italia dari otoritarianisme akademik, di Spanyol karena kekangan berorganisasi, dan di Perancis karena ‘proletarianisasi’ kampus. Semuanya berangkat dari permasalahan yang empirik di hadapan mereka. Namun, seperti paparan Bhaskar tadi, untuk mendapatkan realitas yang ‘real,’ mereka tidak berhenti pada tataran permasalahan empirik saja, tapi terus melaju untuk melewati permasalahan aktual dan menuju permasalahan terdalam yang berasal dari relasi struktur, yaitu kuasa. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa dari Amerika Latin, Italia, Spanyol dan Perancis kemudian menyadari jika permasalahan yang terjadi di dunia akademik mereka bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Terdapat realitas lain yang menjadi sumber permasalahan mereka, permasalahan inilah yang disebut sebagai realitas ‘real.’ Realitas ‘real’ berhubungan dengan relasi kuasa secara struktural yang menjadi akar permasalahan itu. Itulah mengapa kemudian mereka bergerak maju menuju sesuatu yang lebih besar untuk menyelesaikan permasalahan yang sejati atau ‘real’ tersebut. Di Amerika Latin gerakan mahasiswa kemudian menuntut dijatuhkannya otoritarianisme pemerintah, di Italia menuntut sistem akademik dalam tingkat nasional, di Spanyol menyerang fasisme Franco, dan di Perancis kemudian menyerang sistem kapitalisme pendidikan. Hal itu dilakukan saat mereka menemukan realitas ‘real’ tersebut dalam konteks saat itu. Pembelajaran yang didapatkan dari pembacaan realitas yang telah dilakukan oleh kawan-kawan gerakan mahasiswa beberapa tahun lalu, dapat memberikan gambaran kepada gerakan mahasiswa sekarang untuk melihat permasalahan secara kritis. Berangkat dari realisme, dalam hal ini tentu dengan asumsi realisme kritis, adalah untuk mendapatkan gambaran struktur permasalahan sosial dengan kacamata ontologisme tersebut. Jargon bahwa mahasiswa berangkat dari realisme harus dijabarkan dengan asumsi seperti di atas. Mahasiswa berangkat dari realitas atau fenomena sosial secara empirik kemudian menuju sesuatu sesuatu yang ‘real,’ yang menjadi akar permasalahan tersebut. Sekaligus tidak terjebak dalam realitas empirik dan aktual saja. Pembacaan realitas yang demikian, menurut saya, tak hanya untuk permasalahan yang tunggal saja. Analisa terhadap perkembangan isu sosial kemasyarakatan yang berlangsung secara paralel perlu untuk dilakukan dengan analisa seperti di atas, sehingga gerakan mahasiswa tak hanya berkutat pada satu isu ke isu lainnya saja, yang itu sebenarnya hanya realitas empirik. Perlu penarikan secara ontologis untuk melihat realitas ‘real’ yang terjadi. Permasalahan ‘real’ ini yang menjadi basis permasalahan untuk dihajar. Penjabaran satu bagian telah dilewati, yaitu berangkat dari mana gerakan mahasiswa. Maka selanjutanya yang perlu kita upas, menuju kemanakah gerakan mahasiswa ini? Setelah realitas ‘real’ didapatkan lantas untuk apa diselesaikan? Dalam pikiran saya, perjuangan gerakan mahasiswa menuju pada satu kata, yaitu emansipatoris. Perjuangan ini secara singkat bertujuan untuk humanisasi kehidupan manusia. Dalam pengertian humanisasi, pembebasan manusia dari belenggu yang diciptakan permasalahan secara ‘real’ tadi berusaha dilepaskan. Perjuangan emansipatoris berkaitan dengan sisi aksiologis dari ilmu pengetahuan yang menjadi domain mahasiswa selama ini. Dengan perjuangan emansipatoris, ilmu pengetahuan tak hanya berkutat di dunia kampus dan bebas nilai dalam menilai permasalahan. Ilmu pengetahuan yang emansipatoris mensyaratkan keberpihakan dan berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada. Begitu pula gerakan mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika, maka keberpihakan dan terlibat dalam penyelesaian masalah sosial menjadi hal yang terhubung dengan perjuangan emansipatoris. Dalam diri emansipatoris ini, keberpihakan menjadi arahan untuk menciptakan kesetaraan bagi subyek yang diperjuangkan. Selain itu, keberpihakan menjadi jaminan jika perjuangan mahasiswa bukanlah hal yang bebas nilai dan nihil. Terdapat subyek yang menjadi dasar analisa bagaimana perjuangan diarahkan dan ukuran kemenangannya. Sedangkan, aspek keterlibatan dalam penyelesaian masalah menjadi domain pembebasan bagi yang diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa. Pembebasan ini merupakan langkah humanisasi dari belenggu permasalahan ‘real’ di atas. Dalam perjuangan emanispatoris ini, gerakan mahasiswa dituntut untuk terus kontinyu dalam denyut gerakan sosial masyarakat. Hal tersebut dapat kita lihat dari pembelajaran gerakan mahasiswa di atas, bagaimana perjuangan mereka diarahkan ke perjuangan emansipatoris. Gerakan mahasiswa setelah menemukan realitas ‘real’ nya, diarahkan untuk membebaskan diri dari belenggu itu, sekaligus menggabungkan diri dengan sektor lain di masyarakat untuk menghapuskan belenggu yang dihasilkan oleh realitas ‘real’ tadi. Penggabungan diri ini dilakukan karena pada umumnya permasalahan ‘real’ merupakan akar permasalahan bagi banyak permasalahan empirik yang sifatnya multi sektoral. Oleh karena itu, menurut saya, perjuangan emansipatoris tak dapat dilakukan dengan sendirian oleh gerakan mahasiswa. Penggabungan diri dengan gerakan lain di masyarakat perlu dilakukan dalam rangka pembebasan belenggu dari permasalahan yang berakar pada relasi struktur tadi. Penutup Melalui tulisan ini, pembelajaran atas pembacaan realitas yang dilakukan gerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia menjadi hal yang penting. Setidaknya, bagaimana gerakan ini berangkat dan menuju ke arah mana. Analisa atas hal tersebut perlu mendapatkan porsi yang seimbang dalam dunia gerakan mahasiswa sekarang agar tak menjadi ‘kerbau liar’ dalam dunia gerakan masyarakat. Dengan analisa di atas, dalam hemat saya, gerakan mahasiswa saat ini harus berangkat dari realisme dan menuju perjuangan emansipatoris. Dengan ini berarti menyadari jika permasalahan sosial telah ada di luar sana, maka hal yang perlu dilakukan berikutnya adalah analisa untuk menemukan relasi-relasi struktur yang menjadi akar permasalahan sekarang, untuk menuju suatu realitas yang ‘real.’ Hal ini yang dimaksudkan dengan term Berangkat dari Realisme. Selanjutnya, adalah pengarahan untuk menuju arena pembebasan yang dilakukan secara bersama-sama dengan elemen masyarakat lain untuk menuju sebuah perjuangan yang emansipatoris. Perjuangan ini bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari belenggu permasalahan yang diciptakan oleh permasalahan ‘real’ tadi. Hal demikian menjadi tujuan dari gerakan mahasiswa saat ini. Penjelasan tersebut, yang menurut saya, menjadi jawaban dari mana dan kemanakah arah gerakan mahasiswa saat ini (harus) bergerak.***

left is the heaven way

apa itu 'kiri'?? monggo Makna Kiri jika ditarik dalam skala pemahaman tradisional selalu melambangkan dengan yang tidak baik, apalagi kiri ditarik dalam pengertian ideologi, tak jarang menimbulkan kesalahan dalam persepsi tergantung dari tujuan penggunaannya, sehingga kiri selalu menjadi alergi bagi orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, penjelasan mengenai makna kiri perlu dijelaskan sehingga tidak dapat menimbulkan kontroversi dikalangan kita, khususnya bagi mahasiswa. Istilah kiri berasal dari terminologi Barat dengan berbagai perspektif. Dalam sejarah politik, gerakan kiri lebih mengemukakan tentang “hak“ dan berseberangan dengan hal-hal yang berbau borjuis, liberal, kapitalisme, pasar bebas, aristokrasi atau veodalisme, bahkan dihubungkan dengan visi non religius dari politik (Encyclopedia Wikipedia). Gerakan kiri berhubungan dengan erat dengan sifat sosialis komunisme atau sifat pembangkangan: radikalisme yang berwujud istilah-istilah seperti front bersatu (united front) kekuatan rakyat (populasi power), front rakyat, progresif revolusioner serta isu-isu ekonomi seperti kesejahteraan, kemiskinan kemelaratan dan inpirialisme atau kapitalisme atau hal-hal yang bersifat anti kemapanan. Pengertian tentang itu diperoleh perbedaan sistim politik, ekonomi dan sosial suatu masa dan masyarakat pemakai. C. Wright Mills berkesimpulan bahwa istilah kiri merujuk kepada sekelompok orang memiliki kecenderungan utopia, kelompok yang memiliki khayalan akan masa depan dan tatanan sosial yang lebih baik, hal itu tidak selalu berkonotasi buruk. Kata tersebut justru mengacu pada sesuatu yang positif, semacam semangat yang menggerakkan diri manusia untuk menggerakkan perubahan sejarah. Sejarah, kata Mills telah membuktikan bagaimana utopia telah memperkuat gerakan-gerakan perubahan kiri Ditinjau dari segi Historis, dalam sebuah pengantar buku “Tan Malaka dan Gerakan kiri Minang-kabau” Oleh Asvi Warman Adam 2007 menjelaskan bahwa secara historis, dalam politik istilah kiri digunakan untuk menyebut anggota parlemen di prancis yang terbentuk seusai Revolusi Prancis (Renaisance) yang duduk di sebelah kiri dari ketua dewan, jadi kelompok yang duduk di sebelah kanan yang dianggap moderat sedangkan yang berada dibagian kiri yang dipandang lebih progresif atau Revolusioner. Menurut Zulhasril (2007: xvi), “Kiri merupakan gagasan untuk menghapuskan hak-hak sosial isti-mewa, segala bentuk penindasan kolonial, pembatasan hak berbicara dan berekspresi dan menganjurkan kebebasan dan berkeadilan”. Gerakan Kiri Baru diprakarsai oleh para mahasiswa dan kelompok terpelajar dalam masyarakat mdern di Barat awal 1960-an. Aspirasi da-sar dari gerakan ini adalah counter modernization. Gerakan kiri baru lahir karena ketegangan antara kapitalisme Amerika dan Marxisme Rusia pasca perang dunia II. Dalam pandangan Kiri Baru, kedua kekuatan tersebut sama-sama memliki kepentingan terhadap masyarakat dunia untuk mewujudkan sistem masyarakat sesuai dengan misi ideologis masing-masing, egoisme keduanya tersebutlah yang ditolak oleh Kiri Baru.Sebagai pertimbangan, M. Theodori membagi Kiri Baru menjadi tiga tahapan pergerakan, (1) ditandai dengan komitmen moral, keprihatinan individu, kesaksian pribadi akan perdamaian, kebebasan mimbar dan hak-hak sipil, (2) tahap gerakan sporadis tersebut menjadi gerakan kolektif berdasarkan cita-cita demokrasi partisipatoris dan diolah dalam program aksi massa, dan (3) tahap perjuangan mencari kekuasaan politis. Di samping itu James O’Brien menambahkan tahap ke-4, yaitu tahap revolusioner sebagaimana gerakan anti milisi dan gerakan hitam bergerilya menentang pemeritah pada tahun 1968 s.d 1970-an di Amerika Serikat Sejarah telah mencatat di Indonesia gerakan kiri baru muncul pasca Indonesia merdeka, dimana aksi Mahasiswa dapat membongkar, meredupkan kekuatan Seokarno dan dapat menundukkan rezim otoriter Seoharto hingga menjatuhkannya. Di kandangnya sendiri (kampus) mahasiswa pun selalu tampak mengkritisi segala kebijakan dari pihak Rektorat yang dianggap tak adil dan berbau KKN dan biasanya kritisisme mahasiswa mewujud dalam aksi protes dan demo.

02/01/13

Nafas kotor Sang februari

Mendung desember ini, coba aku mengingat akan hangat yg merajai tubuh, sebuah kilasan dosa , yang terus berpacu akan rindu yang terkulum mendung, akupun merasakan si nakal februari datang dengan seronoknya lalu tiba-tiba Nafas itu yang bersatu dengan biru datang berhembus kencang, mengibas segala yang didepannya seiring senyum perdu yang tak pernah rapih, detail hidup dengan keliarannya Berjalan pelan…hadapi esensi yang telah begitu adanya Membawa kedamaian ke tempat yang tak pernah bergerak Bertemu di kotor persimpangan kiri jalan. 'the way of pathetic man! marxian bastard!' simpan konsepsi indah kejenuhan, Filsafat kuno yang tabu bila diubah… Keangkuhan bersama sepi berdiri layaknya oak yang keras menantang angin sepersekian detik pun berlalu dan terduduk entah nikmati atau tenggelam dalam kesemuan cahaya-cahaya malam and blues around my head menggoda, merayu, pelipis dengan stimulus mesra,, bersinergi Roda-roda dunia yang terus berdesing melawan keheningan abadi *dan entah mengapa tiba-tiba aku menjadi takut’ Semua sinar lampu yang tiba-tiba mengerucut Abstraksi-abstaraksi lelap dalam kesenduan mata.. Sebuah perasaan ekstasi yang terkoneksi dengan gejolak hati kepengecutan mereka? Disana itu dunia.. y teman Dunia…?,, Seperti Roma.. dengan pagar2 tinggi yang mengitarinya, seakan-akan bisa ikut rasakan keagungan di masa emas romawi untuk dunia ..Sesaat Tengok ke kiri tak pernah pergi romantisme paris dengan Eiffel dan anggur merahnya, ..Atau kekanan mungkin? posisi favoritku ketika bersendawa dengan tubuh-tubuh berkeringat nakal.. hanya ada surga rusia teman,,dingin vodka dan wanita Lalu..mengapa kalian hanya berdiam diri menghindari matahari dari timur? Sangat disayangkan bila kau nanya menghabiskan waktu dengan mendengar kisah menakjubkannya.. terduduk di perapian dengan coklat panasnya , lalu Terbiasa dengan semua, dan mati di bulu-bulu halus saat tua.. 'more pathetic than a marxian man' Keingintahuan terantai pasti, seperti gerbong kereta yang terikat Rel-rel hakiki menuju hidup yang terlalu jauh dari kata dinamis.. Andai nuansa selalu seperti ini, diktator-diktator hati sepertinya akan terus menyeringai pelan kasihani rakyat jelata yang lucunya hanya bisa angkat kedua tangan dan pasrahkan semua kepada tuhan, begitulah romantisme tak mampu mangajak pandangi lembayung di atas bukit atau bahkan menjadi oase-oase kering merebut lemah menjadi seringai kembali dan sungguh ironisnya sang sastra yang akhirnya hanya menjadi redaksi candu periang disisi trotoar, lalu hilang ketika fajar datang bersama teman-teman kesombongannya Buih.. datang dan pergi,, Engkau dingin peluklah diri ini hingga pagi Bawa Ungkapan sejuk ajak sang februari meredam ombak yang datang harus bagaimana melawan.. Bandung 11-05-2011 Andri ‘Zombie’ Maulana

29/08/12

Ditulis oleh : Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut ? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman : gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman : Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

07/05/12

Aroma Biru


Suatu perasaan dimana aku berdiri,,kemudian terduduk bermandikan cahaya lampu menyatu dengan sendiriku
jika aku tenggelam dalam harap kesunyian...tolonglah subjektifitas kecil bantu aku berdiri dan menari
 ketidakpastian hanya segelintir masalah yang datang seperti kentut..bau dan tersembunyi
 dalam nafas hari ini aku merasa sedang berbaur indah tak terawasi..
dalam kerlap-kerlip terang rutinitas dunia..kewajaran yg hakiki, sederhana namun kunikmati 
 idea jingga plato seperti meringis di ujung hampa.. dengan kabut tipisnya memanggil jiwa-jiwa kelabu berjanji memberi pasti.. namun entahlah rasaku hanya bulatan omong kosong

engkau lelap datanglah dengan kesungguhan.. bawalah aku melintasi padang kesempurnaan dan tertidur dalam pangkuan  dewi-dewi surga lalu terbangun di sebuah tempat yang bertuliskan Taman Firdaus

engkau lelap...temaramlah dengan biru,, buat mesra sang suasana dan jauhkan peluang asumsi duka yg terus-menerus beropini ria di sekeliling pekarangan rumah

dan akhirnya lelap...dekaplah aku dengan aroma martinimu atau  semerbak violet bunga-bunga hutan tak terpedulikan.. tertidur hingga semua pantai,, dengan biru harap gilaku mendominasi segalanya
  
harapan-harapan pilu yang menggelitik,, terpatri membentuk kesadaran yang patut di pertanyakan
sesaat dingin buih menyadarkan...
dengan dingin yang menjalar keseluruh tubuh
dengan dingin yang mengibas pasir ketika goreskan sebuah nama tentang sebuah kisah yang lalu.
membunuh senyum yang sudah terlalu lama..baunya busuk hirupku bosan selalu diam
menikam sastra pujangga gila dengan romantisme berbeda
Add caption

30/04/12

WRITER MEDIA: WRITER MEDIA - WM

WRITER MEDIA: WRITER MEDIA - WM: Writer Media ( WM )adalah sarana bagi penulis senior ataupun junior dalam mengekspor berbagai karya, berkiprah untuk lebih mendewasakan tek...

14/04/12

si mesra


Dalam nuansa lelap kebingungan semakin tergletak lembut
Engkau yang pernah baik padaku dalam sebuah arus ketidaknyamanan
Sanggupkah pandangku lagi ketika bertemu?
Aku disini..selalu disini, menantang dewa dengan gagahnya
hempaskan ombak dengan 1 hentakan dan seperti dahulu, selalu tertawa dalam tekanan terberat walau semua menggapnya tak mungkin
Lalu..? kau bertanya dengan polosnya
ya itu aku...itu aku untukmu sayang, menjadi serigala terakhir dalam hidup survive bebas dan jenaka..dan kau sang wanitanya
terlalu berlebihankah cinta?
seperti nuansa biru bersandingkan sunset di sebuah bukit klise ketika dengan tenangnya aku perbincangkan itu dengan  setan bertanduk
Ungkapan..ungkapan dan ungkapan, terkadang lelah dengan semua,
bersinar lembayung di ufuk sana terkena sedikit sinarnya dan sungguh  aku ingin rasakan itu bersamamu dan bibirku basah lagi

Nafas kotor sang Februari

Mendung desember, sebuah hangat yg merajai tubuh, sebuah kilasan dosa berpacu akan rindu yg dihabiskan angin utara,  akupun merasakan si februari  nakal yang bersatu dengan biru datang berhembus  kencang dan mengibas segala yang didepannya
seiring senyum tanaman-tanaman perdu yang tertata tak rapih detail hidup  dengan keliarannya
Berjalan pelan…hadapi esensi yang tlah  begitu adanya
Membawa kedamaian ketempat yang tak pernah bergerak
Bertemu di persimpangan  kotor
simpan konsepsi-konsepsi indah kejenuhan,
Filsafat kuno yang tabu bila  diubah…
Keangkuhan dan sepi berdiri kukuh seperti si tua oak yang keras menantang angin
sepersekian detik pun berlalu, terduduk  begitu saja, lalu dengan mudah tergoda kuning yang pelan tenggelam bersama sore
tergoda pelipis berstimulus mesra,, bersinergi Roda-roda dunia yang terus berdesing melawan keheningan abadi
*Dan entah mengapa tiba-tiba aku menjadi melankolie’
Semua sinar lampu yang tiba-tiba mengerucut
Abstraksi-abstaraksi lelap dalam kesenduan mata..seakan-akan melawan gejolak hati kepengecutan mereka?
Disana itu dunia..y teman Dunia…?,,
Seperti Roma.. dengan pagar tinggi yang mengitarinya, seakan-akan bisa ikut rasakan keagungan di masa emas romawi untuk dunia
..Sesaat Tengok ke kiri tak pernah pergi romantisme paris dengan Eiffel dan anggur merahnya,
..Atau kekanan mungkin? posisi favoritku ketika bersendawa dengan tubuh-tubuh berkeringat nakal.. hanya ada surga rusia teman,,dingin vodka dan wanita
Lalu.. mengapa kalian hanya terdiam dan rebahkan diri di perapian sambil minum coklat panas , lalu Terbiasa dengan semua, tinggal di bulu-bulu halus dengan perpanjangan kontrak yang entah berakhir kapan
Keingintahuan  terantai pasti,  seperti gerbong kereta yang terikat
Rel-rel hakiki menuju hidup yang terlalu jauh dari kata dinamis..
Andai nuansa selalu begini setiap harinya,
diktator-diktator hati tentu tebahak tertawakan rakyat bumi yang hanya bisa angkat kedua tangan, pasrahkan semua kepada tuhan,
begitu lelah romantisme tak mampu mangajak pandangi lembayung di atas bukit
 atau menjadi oase basah merebut lemah menjadi seringai kembali
dan sungguh ironisnya sang sastra yang akhirnya hanya menjadi  redaksi candu-candu periang disisi trotoar, lalu hilang ketika fajar datang   bersama teman-teman kesombongannya
Buih.. datang dan pergi,,
Engkau dingin kembalilah dari tiada ke tiada
Bawa Ungkapan sejuk ajak sang februari
 meredam ombak yang datang harus bagaimana melawan..
                                                                                                               11-05-2011

                                                                                                              
II
Bila semakin didiamkan terbersit satu  keyakinan pasti
                   bahwasanya tak bisa dihindari akanlah Terbengkalai mimpi-mimpi itu menuju beranda hina
hina bermandikan lampu jalanan..
Awan kelabu hanya bemalas-malasan mengitari hingga sampai dipertigaan usang
Engkau si ketidakpastian yang pasti mencari tempat nyaman dan Bersandar kotormu dipojok dengan entengnya hanya menjawab  ‘memang hidup
Entah setan apa yang merasuki
kebodohan tergoda, menggeliat2 membuat pondok mewah di otak kanan, kiri dan tengah berselonjor disitu tak pernah merasa berdosa
paradoks-paradoks perumpaan cerita terus bermain riuh rendah, ketika suaranya semakin pelan, cacian malu semakin keras disekitar
alam membawa lari siluet yang menyakitkan
dibawa nyaman pada 1 posisi ketika setiap incinya ternikmati dengan ‘Ah..
selusin konsepsi indah berkilau disana
namun ku tak tahu kenapa seolah-olah menjauh begitu cepat,
 cepat saja ia  lari dengan membawa timbangan hidup Dalam pesimistis pasti
      A  ;     Berhenti dan tertidur terus
      B :      Berleha-leha dipekarangan rumah temani si bodoh
Atau..
      C :      Ah sudahlah..semuanya kehendak tuhan berjalan
Ketiganya terpeluk dalam ketiak hangat tak terasa mengganggu
terteguk tanpa mencium terlebih dahulu…
dan akhirnya koma dalam diam stadium 5
malam jatuh pun jatuh, gelap memangsa bulat-bulat tubuh kaku
dingin menjalar susuri tengkuk tubuh yang paling lemah
memusatkan dinginnya disitu
dan seperti sang bodoh yang membuat pondok tanpa surat ijin sang logika
ia pun membuat lesehan di sela-sela undakan rapuh gemulai kekakuan tubuh
kadang berputar-putar ia seperti para anak kecil bermain komidi putar,
setelah lelah ringkuknya menghadap jendela sambil perhatikan lampu-lampu kota yang membiaskan warna kuning tak terasa padu dengan kebimbangan

III








13/04/12

senandung remaja



                                                  Slank 21-04-2009
Berlalu titik-titik kecil yg menyatu menjadi bulatan terang tentang sketsa lalu
Tangis..tawa..ceria dan hampa berlari-lari kecil sapa diri ini
Teringat Hari-hari itu, dimana  kekonyolan menjadi suatu kebanggan
kebodohan mejadi kejeniusan tak terbantahkan
aku bediri tegar
dan berteriak pelan ‘Akulah Penguasa
hmm..indah, terkecuali cinta atau mungkin obsesi tentang sebuah sentuhan
berdarah..penuh sayatan-sayatan luka seperti korban perang abadi Israel-palestina kukejar dirinya
tertutup semua logika, terkunci jendela-jendela hati yg jernih untuk berfikir bahwa dia hanya seorang wanita biasa
terlalu sempurna ungkapan senandung gerak-lakunya
sudahlah…takkan terhenti, takkan bertemu muara bila dia menjadi tema utama atau superhero dsetiap layar kaca
dengan terkantuk-kantuk pagi itu seperti sebuah mimpi…
siang kebrutalan terjadi..
dan sore pulang seakan-akan tlah menaklukan romawi
aku hanya seorang remaja biasa yg tinggal di lingkungan yg sederhana
hanya seorang remaja desa yg tak tahu arti apa-apa
lalu mengapa tiba-tiba meneriakan teriakan pelan tadi..aneh..fiktif?
subjektif teman..yg lalu hnya diriku yg tahu
menanti asa dalam fase hidup..terlewat tanpa sesuatu yg belum tergenggam pasti
kembali..masih tersenyum aku mengenang itu,
dalam kantuk2 bodoh kadang di kelas namun setelah terhirup aroma kantin
hm…aku hidup, bebas dalam aturan yang sederhana
bila aturan itu mendekat bersama algojonya, aku atau kami berlari, cari kemerdekaan yang lain
hhaha.. tertawa bersama dalam rentan waktu yang cukup lama dan akhirnya tersadar ketika terjemur di teriknya beranda sekolah
kalian yang pernah tegar..pernah menangis disisiku, tegaklah ke langit yang luas..
sampaikanlah kepada zeus betapa gagahnya kita dimasa sepatu kets putih abu-abu itu..
dan suatu saat nanti ketika cucu2mu tanyakan tentang sebuah masa di masa muda, tersenyumlah dengan bangga dan berikan air wajah bahwa kita pernah taklukan dunia kecil bersama

12/04/12

GiLa dan Dewa


Kemarin..kemarin semua yang terlewat
Dan dia mendelik lemah...balut jelita dalam nafas esok hari
Berdiri lantang tampakan mimik ambigu..dan skeptis sesaat malu akan dunia
yang sedikit aga melankolie atau memang tak berday
dan esok di kebun itu..sebuah imaji kita berdua,,bakukan indah menjadi titik titik yang tak terbantahkan
berbeda ataukah sama... ungkapan hutan-hutan suram tak terpedulikan, bercengkrama diantara semak-semak perdu, menyibak buih pantai di imaji yang berikutnya
suara-suara  aneh distorsi lelap..membingungkan, kamu disana yang mengukir dan aku disini mewarnai
sketsa-sketsa misteri  enggan ajak jawab yg masih nyaman meringkuk dipojokan
, di setiap mimpi hadir hilang karena teriakan
semua membiru sepertinya akan berakhir namun nyatanya masih lama
terjepit diantara arus lalu lintas bandung-tangerang yang memuakan
mengerucut menjadi kuning..ajak keluar semua perumpamaan
kadar kabut menjerit derita terkikis mesra oleh suasana
habislah sudah sebuah tanya tentang semu..yang jelas disana sudah tertawa..hanya menanti mengajaknya menari lagi
belum mau berhenti..dipertigaan kemudian bernyanyi..na..na..na
desah atau letup wanita muda berserakan di setiap sudut remang..untung saja bukan kau.
Abstraksi pelangi..inginkan itu ditengah malam
di antara jangkrik-jangkrik yang bermain teatrikal...
kebodohan tanpa lepas akan menjadi sesal...keberanian ditunjukan diantara para setan terkekeh ajak senang tanpa batas
lamunan menjadi kelam
ketenangan di rusak..
detak jantung semakin berdetak lebih kencang
lalu kalian para paradoks2 ganjil membuat barisan tanpa gentar
yang bernyawa menyembah dan mentuhankan logika kemudian rasa...
berpergian terlalu jauh..klise maaf terpampang gelisah tentang kematian
disaat iblis2 bertanduk berpaling aku pergi temui zeus menyuruhnya mati
sesumbar di atas langit..putaran teka teki tentang kehidupan abadi
temukan jalan keluar stelah beberapa tahun terkurung dingin..
kehangatan berlomba inginkan tubuh untuk terpeluk..
kemenangan yang dicari bukan ketakutan tanpa henti..
musnah kau biadab..! pergi dan hancurkan persepsi jiwa sinkronitas jiwaku...terbang melayang kepakan sayap dewa berhembus angin februari  tersebut mencari jalan keluar
dan koma stadium 5 dalam nafas nirwana atau seperti para bidadari Yang menari tanpa busana
aku gila dalam biru,,,humanis yg bergeser 2 langkah ke utara..bunuh duka pojok kelas redam ombak penantian sentuhan riang..sentuhan basahmu kasih
sanggupkah wajah2 dalam pilu membius kalian diantara subjektifitas para dewa??
ambiguitas

11/04/12

gadisku


kamu yang membuat terpana dengan melodi nirwana 
kaki-kaki tuhan yang gerayangi lemahku
atau tangan-tangan setan yg menggoda jenaka
terbuka koridor menuju sebuah hati 
aku merasakan cahaya di ruang yang tertata rapih 
sungguh merasakan hembusan nafas seorang bidadari
dalam pualam jingga bergetar satu titik nadir tentang getar-getar hasrat
semerbak wangi cinta..senandung cantik di mana-mana
gurindam mengantam bumi dengan keras
makhluk-makhluk kecil takut tanpa dibuat-buat
lalu keluar cahaya para filusuf tentang ketidakmengertian abadi
segurat samar penuhi wajah, terbelakangi siluet hitam tentang satu amarah,,
ia hidup dalam nadi,,berdenyut pelan ketika terluka
dan lucu ia  bergelantungan seperti perdu-perdu yang baru saja berbunga.

10/04/12

mimpi gila itu


Tentang sebuah harapan hebat, kemajemukan gagak-gagak khayal kemudian terbawa arus damai sebuah imaji
berkata pujangga tentang Obsesi Indahnya
'aku disana yang selalu tersenyum perhatikan kamu..

layangkan pandang untuk jenaka-jenaka kecil setelah

roma, paris, rusia kutelan dengan tawa
sambil terus mendengar keluhan berisik

tentang kapan aku akan membuat buku lagi'
oh indahnya. . terpatri membentuk kesadaran yang dipermainkan sangkakala, karena suaranya hanya terdengar olehku

imaji menderita karena realitanya tak ada

& kamu terus saja mengoceh
aku yang tak pernah bosan, terkadang kesal juga mendengarnya
tentang tujuan hidup yang tak 1 setan pun tahu
atau tentang sebuah pilihan yang terlalu banyak menyita  angkuh sang santai
menjadi tak serius karena Iblis pun terganggu dengar ocehan bla..bla..bla..
setiap waktu yang telah terbunuh, sempurna ketika di jadikan senyum di ujung rel
tapi akankah ufuk itu selalu memberikan jingga? Dan aku bermandikan cahayanya hingga subuh
hirau opini mendengkur saking jenuhnya tanyakan Kapan.!?
lain halnya dengan ungkapan pasir..terjebak ia sangat memprihatinkan
datang dan pergi dengan takaran yang sama
perubahan yang di impikan hanya lamunan sesaat akhirnya tetap sisakan buih tak ada habisnya
namun aneh hal itu menjadi benar-benar menjadi nyata ketika sentuh jari kaki dengan rasa dinginnya yang menjalar ke seluruh tubuh
dasar misteri.. engkau peluk diri ini dengan nyaman.
.intusi mereka tersentuh memang, namun suara senggama di setiap beranda  mengaburkan fokus mereka

hilang dan rindu


Aku tertunduk lesu Di suatu pagi yang sudah tak buta
Terkapar mimpiku tertinggal pergi
Aku mendelik tertahan letih yang sudah mencapai puncaknya ketika tertidur dari kemarin
Angin tak membelai namun menyentuh pelan, usik egoisme untuk menghela
Dimana indah pagi itu ya tuhan.. bila sore lebih bermakna..
Bermakna yang tak berpolos-polos bodoh tanpa kantuk yang terus menggoda
Memandang sekitar suasana yang sama seperti sebelumnya, dingin, sepi dan oh... kosong
Orang bodoh tersebar dimana-mana, abstraksi menambah parah realitas kacau yang sudah terjadi
Tak menemukan tema mimpiku lari ke sisi perapian dan tertunduk lesu disana, seperti titik klimaks 2 aroma yg bersenggama di kasa yg kotor
Kemanakah kau cinta bila engkau ku rindukan untuk tertawa..
untuk saling bercerita tentang harapan gila atau sekedar saling memandang tanpa kata
Fikirkan bayangan setapak yg akan tersusur, bayangkan itu bayangkan terus dan entahlah si hasrat merajai dunia dengan lucunya

ironi lalu


Aku suka caramu tersenyum..
mempermainkan gurat itu hingga menjadi sesuatu yang kadang ku rindukan
kadang sendu..
kadang piLu..
tertawa di sudut..padahal hati menjerit karena sesuatu
dan sejenak tutup mata
andainya kita duduk di tepi pantai..Rasakan buih ketika menyentuh jari-jari lentikmu
rasakan dingin yang menjalar keseluruh tubuh
atau...
kau suka di tempat yang lebih tinggi?
mencoba damai...sepi...tenang..
namun,,ya tetap bersama denganku tentunya
'harapan busuk..'
 lepaskan ya Indah..
Bodoh!!! bila kau terus melihat belakang
'maaf ' terlalu Ironi Rasanya masa lalumu itu

Huft..dan kamu cantik
kamu bisa membuatku terhenti di satu titik
hmm...pesonamu di pagi hari
nyata..berharap diam seLamanya disini
hari yang terlewati..semua ironi yang menangis
didalam remang senandung dingin
engkau pun tersenyum berseringai tenang
kemudian bebisik....
'Bodoh kau ndri...'
aroma pantai tentu dengan buih putihnya sesaat menyadarkan
Dalam buaian mimpi2 diangkasa..
dalam khayalan duduk berdua
dan dalam keinginan hasratku yang menggebu 


semu yg mengelitik


sudahlah..dalam gemerlap dunia engkau tak henti berkelana dan berteriak akulah penguasa
sampai kapan? senandung lemah terlalu angkuh engkau..naifmu segan menghindar walau dalam keramaian
ketika roda-roda waktu menggelinding terus takkan pernah berhenti di sisi perapian..
mau apa engkau?
mau apa...?
egomu hanya berselimut kasa...mendekam ia dalam gelap berteriak dan bersembunyi tak ingin terlihat
lalu serombongan lalat datang..menengok kearahnya,, berputar-putar disitu untuk selamanya..
Busuk..!!
dalam kepecundangan semu semua berjalan begitu pelan.. lambat sekali, hingga bunyi mendecitnya begitu aneh terdengar
romantisme romantis yg dibuat-buat...membelai mesra gurat keras sisi-sisi dunia
menjadi satu semua,,,tawa, senyum ataupun air mata menjadi biru kesukaan yang sempurna..
dalam selisih detik yg sempit itu engkau datang dan akhirnya memberi tanya diantara jawab yang pergi
 
 

datanglah asmara


Ambiguitas dalam pekat... akupun menari bersama rimbunnya fikiran, tentang naskah lama yg kuambil di pojokan lemari, tentang dia..atau cinta yang masih imaji
Kemerdekaan hati belum tercapai penuh..
Hanya bisa nikmati subektifitas sendiri tanpa atau dengan mereka
Khayal yang manis saling berkejaran.. camar-camar pantai yang masih terjebak di tembok kotor, sekedar sensasi tanpa stimulus baku mencengkram jingga siluetnya kuberikan untukmu
Terbata-bata langkahkan kaki..berat pada beberapa persepsi dan Tinggalkan sedikit bekas pada hati
Lalu sekali ini aku melihat karya surga dari mata seorang hawa
Ia datang membawa ketulusan namun disisi neraka aku mencoba tak peduli
Lirikan pandang untuknya dan entah mengapa aku selalu saja kalah..
Laksana pagi yang datang tak pernah tahu etika, sebentar lagi akan datang aroma itu
Suatu kebebasan yang tak terkira karena diam sepertinya tak selalu menyenangkan
Tersebar remang suasana menunggu jelita
Kapankah kau akan datang asmara?
Mengetuk pintu itu dan biarkan diriku melayang lagi dalam sirkus api yang mempesona

09/04/12

nguye lagi..lagi dan hilang


nguye lg nih sama si ndut...
sedikit menceritakan sahabatku ini... karena y ini sahabat yg ngkost bareng dua tahun dan akhirnya dia memilih jalan lain entah dengan alasan apa,
dalam 2 tahun yg bisa dikatakan  'mengkhawatirkan' itu y gw jalani hari-hari kebanyakan sama dia, inget pas pertama kali ketemu gw g nyangka dia bisa jadi sahabat sekaligus saudara,
y ceritanya ga singkat tapi bakal gw singkat takut bosen :) gw inget momentnnya pas pertama kali ketemu kita ngopi berdua di bawah pohon yg bakal jadi ritual kita selama semester 1, ky cerita2 telenovela dengan desiran angin yg menyapu kedua wajah polos tentang dunia, diriingi reagge yg mengkulum habis kuping2 santai, kesimpulannya pokoknya romantis tapi sorry gw bukan homo cuma bajingan hhehe
berjalan kita nikmati dinamika kampus dengan tawa.. telat dan  santai, salah satu karakteristik unik dari dia tuh sepertinya hidup hanya lelucon, bikin ketawa terus kocak gendut lagi, setia banget kalau misalkan gw telat bangun eh dia malah nungguin dan sama2 telat atau g masuk sekalian.. tapi di satu sisi yang lain sering obrolan atap kosan kita ya tentang seputar masalah dia di rumah yang bisa dibilang sangat..sangat..sangat penuh tekanan, tapi ya udah tinggalin dulu tekanan itu, mau cerita salah satu best moment nih sama dia

selasa habis pulang kuliah.. "tRReeNg" dapet inspirasi
 "lang jalan yu? pengen tau bandung nih"
"mm hayu.." ekspresi muka yang sedikit ragu..terus berangkat naik damri harga 3000, eh kyy g ush di ceritain tuh..  
dalam perjalanan yg sangat biasa itu 

*gilang dengan wajah polosnya
*gw yg tersenyum-senyum kecil membayangkan bandung dengan segala keindahannya
tiba2 sang kondektur berteriak dan membuyarkan lamunan kedua wajah dalam persemayamannya
"alun-alun..alun-alun"
"wah lang turun2"
"hah-hah? hayu2"
"jlegur.." kaya kena gledek di siang hari tuh beberapa detik kita menikmati sebuah jalan yang kotor di bandung, warung2 kecil yg g ke urus dan ada ayam yang memandangi kita di sebuah kubangan
" haduh dimana nih lang?"
tanpa merasa bersalah " teing atuh"
"perasaan tadi kondektur bilang alun-alun?"
"iya"
"trz gimana nih?"

dengan tenang lagi "teing atuh"
"ydh jalan aja yu"
dan akhirnya kita jalan kaki seharian muter kota bandung, tanpa tujuan.. kita ikutin petunjuk jalan dan nyari nama yg aga populer dan akhirnya kita menemukan GASIBU dan kalian tau kita menemukan apa disana, sebuah warung kopi yang sepi pembeli dan taman untuk para lansia

"katanya apal bandung lang?"

"haduh..ga tahu tuh, udah rada beda bandung dulu sama yang sekarang mah"
"hhe..gelo"

dan kitapun sadar ternyata orang yang patut disalahkan selain dia adalah si kondektur yg berteriak alun2 padahal itu seruan kepada orang yang akan naik mobil damri. mm jleb moment lah tp seru ketika diceritain di depan anak-anak. terus pulang..dan lanjutkan rutinitas di depan komputer, yg satu nonton bok** yg satu gitaran dan yang satunya lagi membaca buku dan semuanya pun akhirnya nonton bokep.. lupa cerita ditengah perjalanan ngkos kan nambah personil satu lagi, y g jauh2 beda lah suka vespa, kopi, gitaran dan y rutinitas nonton bersama tadi 

mm sekarang kita bahas tekanan tadi... jadi kita punya ritual di atap kosan tiap malam ngopi sambil gitaran  kadang kalau awal bulan  ngdrugs walau cuma sebatas beer dan y bercerita tentang segala hal. satu waktu dia pun bercerita tentang segala macam tekanan di keluarganya, di satu sisi dia terkadang sangat ingin membutuhkan kebebasan dalam koridor yg wajar..tp y gitu stupid kali orang tuanya cara ngasuhnya g dapat dimengerti dengan  memberikan tuntutan yang besar dan selalu menyalahkan dalam berbagai hal walau dia ingin berbuat benar.. dan kesininya lebih kompleks mungkin dan akhirnya dia pun pergi g lanjut kuliah, g ngasih tau alesannya kenapa, dan g pengen di temuin..
dan saya sebagai lelaki..yg gamau berlebay-lebayan y biasa aja hadepinnya..di hati sih kangen banget dan ini pertama kalinya gw kangen pake banget lagi dan ngerasa kehilangan seorang sahabat, yg bikin nyeselnya sih ketika gw sama dia y gw g total sebagai sahabat yg baik. pelajaran berharga bray,asli g enak rasanya tp gw tetep doain dia ko menjadi pribadi yang lebih baik dan mungkin bisa tertawa lagi kaya dulu, dan bernyanyi di bareng lagi di bunderan jam 5 sore2 ngarepin sunset datang dan wlpn kita tau moment jingga itu gabakalan datang tp tetep ketawa lepas, kaya dalem video ini