Tentang sebuah harapan hebat, kemajemukan gagak-gagak khayal kemudian terbawa arus damai sebuah imaji
“berkata pujangga tentang Obsesi Indahnya
'aku disana yang selalu tersenyum perhatikan kamu..
layangkan pandang untuk jenaka-jenaka kecil setelah
roma, paris, rusia kutelan dengan tawa
sambil terus mendengar keluhan berisik
tentang kapan aku akan membuat buku lagi'
oh indahnya. . terpatri membentuk kesadaran yang dipermainkan sangkakala, karena suaranya hanya terdengar olehku
imaji menderita karena realitanya tak ada
& kamu terus saja mengoceh
aku yang tak pernah bosan, terkadang kesal juga mendengarnya
tentang tujuan hidup yang tak 1 setan pun tahu
atau tentang sebuah pilihan yang terlalu banyak menyita angkuh sang santai
menjadi tak serius karena Iblis pun terganggu dengar ocehan bla..bla..bla..
setiap waktu yang telah terbunuh, sempurna ketika di jadikan senyum di ujung rel
tapi akankah ufuk itu selalu memberikan jingga? Dan aku bermandikan cahayanya hingga subuh
hirau opini mendengkur saking jenuhnya tanyakan Kapan.!?
lain halnya dengan ungkapan pasir..terjebak ia sangat memprihatinkan
datang dan pergi dengan takaran yang sama
perubahan yang di impikan hanya lamunan sesaat akhirnya tetap sisakan buih tak ada habisnya
namun aneh hal itu menjadi benar-benar menjadi nyata ketika sentuh jari kaki dengan rasa dinginnya yang menjalar ke seluruh tubuh
dasar misteri.. engkau peluk diri ini dengan nyaman.
.intusi mereka tersentuh memang, namun suara senggama di setiap beranda mengaburkan fokus mereka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar