Mendung desember, sebuah hangat yg merajai tubuh, sebuah kilasan dosa berpacu akan rindu yg dihabiskan angin utara, akupun merasakan si februari nakal yang bersatu dengan biru datang berhembus kencang dan mengibas segala yang didepannyaseiring senyum tanaman-tanaman perdu yang tertata tak rapih detail hidup dengan keliarannyaBerjalan pelan…hadapi esensi yang tlah begitu adanyaMembawa kedamaian ketempat yang tak pernah bergerakBertemu di persimpangan kotorsimpan konsepsi-konsepsi indah kejenuhan,Filsafat kuno yang tabu bila diubah…Keangkuhan dan sepi berdiri kukuh seperti si tua oak yang keras menantang anginsepersekian detik pun berlalu, terduduk begitu saja, lalu dengan mudah tergoda kuning yang pelan tenggelam bersama soretergoda pelipis berstimulus mesra,, bersinergi Roda-roda dunia yang terus berdesing melawan keheningan abadi*Dan entah mengapa tiba-tiba aku menjadi melankolie’Semua sinar lampu yang tiba-tiba mengerucutAbstraksi-abstaraksi lelap dalam kesenduan mata..seakan-akan melawan gejolak hati kepengecutan mereka?Disana itu dunia..y teman Dunia…?,,Seperti Roma.. dengan pagar tinggi yang mengitarinya, seakan-akan bisa ikut rasakan keagungan di masa emas romawi untuk dunia..Sesaat Tengok ke kiri tak pernah pergi romantisme paris dengan Eiffel dan anggur merahnya,..Atau kekanan mungkin? posisi favoritku ketika bersendawa dengan tubuh-tubuh berkeringat nakal.. hanya ada surga rusia teman,,dingin vodka dan wanitaLalu.. mengapa kalian hanya terdiam dan rebahkan diri di perapian sambil minum coklat panas , lalu Terbiasa dengan semua, tinggal di bulu-bulu halus dengan perpanjangan kontrak yang entah berakhir kapanKeingintahuan terantai pasti, seperti gerbong kereta yang terikatRel-rel hakiki menuju hidup yang terlalu jauh dari kata dinamis..Andai nuansa selalu begini setiap harinya,diktator-diktator hati tentu tebahak tertawakan rakyat bumi yang hanya bisa angkat kedua tangan, pasrahkan semua kepada tuhan,begitu lelah romantisme tak mampu mangajak pandangi lembayung di atas bukitatau menjadi oase basah merebut lemah menjadi seringai kembalidan sungguh ironisnya sang sastra yang akhirnya hanya menjadi redaksi candu-candu periang disisi trotoar, lalu hilang ketika fajar datang bersama teman-teman kesombongannyaBuih.. datang dan pergi,,Engkau dingin kembalilah dari tiada ke tiadaBawa Ungkapan sejuk ajak sang februarimeredam ombak yang datang harus bagaimana melawan..11-05-2011IIBila semakin didiamkan terbersit satu keyakinan pasti
bahwasanya tak bisa dihindari akanlah Terbengkalai mimpi-mimpi itu menuju beranda hina
hina bermandikan lampu jalanan..Awan kelabu hanya bemalas-malasan mengitari hingga sampai dipertigaan usangEngkau si ketidakpastian yang pasti mencari tempat nyaman dan Bersandar kotormu dipojok dengan entengnya hanya menjawab ‘memang hidupEntah setan apa yang merasukikebodohan tergoda, menggeliat2 membuat pondok mewah di otak kanan, kiri dan tengah berselonjor disitu tak pernah merasa berdosaparadoks-paradoks perumpaan cerita terus bermain riuh rendah, ketika suaranya semakin pelan, cacian malu semakin keras disekitaralam membawa lari siluet yang menyakitkandibawa nyaman pada 1 posisi ketika setiap incinya ternikmati dengan ‘Ah..selusin konsepsi indah berkilau disananamun ku tak tahu kenapa seolah-olah menjauh begitu cepat,cepat saja ia lari dengan membawa timbangan hidup Dalam pesimistis pastiA ; Berhenti dan tertidur terusB : Berleha-leha dipekarangan rumah temani si bodohAtau..C : Ah sudahlah..semuanya kehendak tuhan berjalanKetiganya terpeluk dalam ketiak hangat tak terasa menggangguterteguk tanpa mencium terlebih dahulu…
dan akhirnya koma dalam diam stadium 5malam jatuh pun jatuh, gelap memangsa bulat-bulat tubuh kakudingin menjalar susuri tengkuk tubuh yang paling lemahmemusatkan dinginnya disitudan seperti sang bodoh yang membuat pondok tanpa surat ijin sang logikaia pun membuat lesehan di sela-sela undakan rapuh gemulai kekakuan tubuhkadang berputar-putar ia seperti para anak kecil bermain komidi putar,setelah lelah ringkuknya menghadap jendela sambil perhatikan lampu-lampu kota yang membiaskan warna kuning tak terasa padu dengan kebimbanganIII

Tidak ada komentar:
Posting Komentar