14/04/12

Nafas kotor sang Februari

Mendung desember, sebuah hangat yg merajai tubuh, sebuah kilasan dosa berpacu akan rindu yg dihabiskan angin utara,  akupun merasakan si februari  nakal yang bersatu dengan biru datang berhembus  kencang dan mengibas segala yang didepannya
seiring senyum tanaman-tanaman perdu yang tertata tak rapih detail hidup  dengan keliarannya
Berjalan pelan…hadapi esensi yang tlah  begitu adanya
Membawa kedamaian ketempat yang tak pernah bergerak
Bertemu di persimpangan  kotor
simpan konsepsi-konsepsi indah kejenuhan,
Filsafat kuno yang tabu bila  diubah…
Keangkuhan dan sepi berdiri kukuh seperti si tua oak yang keras menantang angin
sepersekian detik pun berlalu, terduduk  begitu saja, lalu dengan mudah tergoda kuning yang pelan tenggelam bersama sore
tergoda pelipis berstimulus mesra,, bersinergi Roda-roda dunia yang terus berdesing melawan keheningan abadi
*Dan entah mengapa tiba-tiba aku menjadi melankolie’
Semua sinar lampu yang tiba-tiba mengerucut
Abstraksi-abstaraksi lelap dalam kesenduan mata..seakan-akan melawan gejolak hati kepengecutan mereka?
Disana itu dunia..y teman Dunia…?,,
Seperti Roma.. dengan pagar tinggi yang mengitarinya, seakan-akan bisa ikut rasakan keagungan di masa emas romawi untuk dunia
..Sesaat Tengok ke kiri tak pernah pergi romantisme paris dengan Eiffel dan anggur merahnya,
..Atau kekanan mungkin? posisi favoritku ketika bersendawa dengan tubuh-tubuh berkeringat nakal.. hanya ada surga rusia teman,,dingin vodka dan wanita
Lalu.. mengapa kalian hanya terdiam dan rebahkan diri di perapian sambil minum coklat panas , lalu Terbiasa dengan semua, tinggal di bulu-bulu halus dengan perpanjangan kontrak yang entah berakhir kapan
Keingintahuan  terantai pasti,  seperti gerbong kereta yang terikat
Rel-rel hakiki menuju hidup yang terlalu jauh dari kata dinamis..
Andai nuansa selalu begini setiap harinya,
diktator-diktator hati tentu tebahak tertawakan rakyat bumi yang hanya bisa angkat kedua tangan, pasrahkan semua kepada tuhan,
begitu lelah romantisme tak mampu mangajak pandangi lembayung di atas bukit
 atau menjadi oase basah merebut lemah menjadi seringai kembali
dan sungguh ironisnya sang sastra yang akhirnya hanya menjadi  redaksi candu-candu periang disisi trotoar, lalu hilang ketika fajar datang   bersama teman-teman kesombongannya
Buih.. datang dan pergi,,
Engkau dingin kembalilah dari tiada ke tiada
Bawa Ungkapan sejuk ajak sang februari
 meredam ombak yang datang harus bagaimana melawan..
                                                                                                               11-05-2011

                                                                                                              
II
Bila semakin didiamkan terbersit satu  keyakinan pasti
                   bahwasanya tak bisa dihindari akanlah Terbengkalai mimpi-mimpi itu menuju beranda hina
hina bermandikan lampu jalanan..
Awan kelabu hanya bemalas-malasan mengitari hingga sampai dipertigaan usang
Engkau si ketidakpastian yang pasti mencari tempat nyaman dan Bersandar kotormu dipojok dengan entengnya hanya menjawab  ‘memang hidup
Entah setan apa yang merasuki
kebodohan tergoda, menggeliat2 membuat pondok mewah di otak kanan, kiri dan tengah berselonjor disitu tak pernah merasa berdosa
paradoks-paradoks perumpaan cerita terus bermain riuh rendah, ketika suaranya semakin pelan, cacian malu semakin keras disekitar
alam membawa lari siluet yang menyakitkan
dibawa nyaman pada 1 posisi ketika setiap incinya ternikmati dengan ‘Ah..
selusin konsepsi indah berkilau disana
namun ku tak tahu kenapa seolah-olah menjauh begitu cepat,
 cepat saja ia  lari dengan membawa timbangan hidup Dalam pesimistis pasti
      A  ;     Berhenti dan tertidur terus
      B :      Berleha-leha dipekarangan rumah temani si bodoh
Atau..
      C :      Ah sudahlah..semuanya kehendak tuhan berjalan
Ketiganya terpeluk dalam ketiak hangat tak terasa mengganggu
terteguk tanpa mencium terlebih dahulu…
dan akhirnya koma dalam diam stadium 5
malam jatuh pun jatuh, gelap memangsa bulat-bulat tubuh kaku
dingin menjalar susuri tengkuk tubuh yang paling lemah
memusatkan dinginnya disitu
dan seperti sang bodoh yang membuat pondok tanpa surat ijin sang logika
ia pun membuat lesehan di sela-sela undakan rapuh gemulai kekakuan tubuh
kadang berputar-putar ia seperti para anak kecil bermain komidi putar,
setelah lelah ringkuknya menghadap jendela sambil perhatikan lampu-lampu kota yang membiaskan warna kuning tak terasa padu dengan kebimbangan

III








Tidak ada komentar:

Posting Komentar